![]() |
| Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen, Minggu (11/10/2026). [Foto: dok. Ist] |
Brntimes.com | Bireuen - Hujan lebat disertai angin kencang memicu banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (11/10/2026). Tanggul di Gampong Pante Karya, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, dilaporkan jebol hingga berdampak pada tiga dusun dan memaksa warga mengungsi ke meunasah.
Berdasarkan laporan awal Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PUSDALLOPS-PB) BPBD Kabupaten Bireuen, cuaca ekstrem mulai terjadi sekitar pukul 16.46 WIB. Hujan berintensitas tinggi dan angin kencang meningkatkan risiko banjir serta kenaikan debit air sungai.
Di Gampong Pante Karya, warga memilih mengungsi ke meunasah untuk menghindari ancaman banjir. Hingga laporan awal diterima, jumlah pengungsi, rumah terdampak, tingkat kerusakan tanggul, dan kebutuhan mendesak warga masih dalam pendataan.
Petugas masih memerlukan informasi terverifikasi untuk menentukan skala dampak dan kebutuhan penanganan di lokasi kejadian. Kondisi warga yang mengungsi serta perkembangan kerusakan tanggul menjadi bagian penting dalam pemantauan bencana tersebut.
Banjir Meluas ke Sejumlah Wilayah Samalanga
Kecamatan Samalanga juga masuk dalam pemantauan setelah debit air sungai meningkat akibat hujan lebat. Kawasan sekitar Dayah Mudi Mesra dilaporkan terdampak banjir, sementara sejumlah rumah warga di dataran rendah mulai kemasukan air setelah hujan mereda.
Wilayah yang masuk dalam pemantauan awal meliputi Gampong Mideun Jok, Mideun Geudong, Lueng Keubeu, Putoh, Kandang, Namploh Papeun, Namploh Krueng, dan Namploh Blanggarang, serta kawasan sekitar Dayah Mudi Mesra.
Sementara itu, kondisi debit air Krueng Batee Iliek berdasarkan informasi awal masih tergolong aman. Warga dan pemuda setempat dilaporkan bersiaga untuk mengantisipasi kenaikan debit air secara mendadak, terutama jika hujan kembali mengguyur kawasan hulu dan perbukitan Glee.
Pemantauan sungai dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi air yang dapat berdampak pada permukiman di sekitarnya. Perkembangan cuaca dan kondisi wilayah hulu menjadi faktor yang perlu diperhatikan selama potensi hujan masih ada.
BPBD Bireuen Perkuat Pemantauan dan Koordinasi
BPBD Kabupaten Bireuen menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan pelaporan cepat dari wilayah terdampak maupun kawasan yang berpotensi mengalami banjir susulan. Aparatur gampong, unsur pemuda, petugas pemadam kebakaran, dan pihak terkait diminta menyampaikan perkembangan situasi kepada PUSDALLOPS-PB serta Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Bireuen.
Laporan dari lapangan perlu mencakup lokasi dan waktu kejadian, kondisi terkini, jumlah rumah dan warga terdampak, jumlah pengungsi, serta kebutuhan mendesak. Dokumentasi foto atau video juga diperlukan apabila tersedia untuk mendukung verifikasi kondisi di lokasi.
Data tersebut menjadi dasar bagi petugas dalam menentukan langkah penanganan, termasuk kebutuhan evakuasi dan bantuan bagi warga terdampak. Di Pante Karya, keselamatan warga yang mengungsi ke meunasah menjadi salah satu hal yang perlu dipantau.
Warga Diimbau Menjauhi Tanggul yang Jebol
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Warga diminta tidak mendekati lokasi tanggul yang jebol serta menjauhi aliran air yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Warga juga diminta mengantisipasi kemungkinan kenaikan debit sungai dan masuknya air ke permukiman apabila hujan kembali turun. Jika kondisi membahayakan, masyarakat perlu segera mengikuti arahan evakuasi dari petugas dan aparatur setempat.
Kebutuhan warga yang mengungsi, termasuk tempat berlindung, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya, masih perlu disesuaikan dengan hasil pendataan di lapangan.
Laporan awal PUSDALLOPS-PB BPBD Kabupaten Bireuen mencantumkan M. Rakjab, S.E., Furkan, S.T., dan Irvan sebagai petugas piket. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD melibatkan Dedi Arnadi, dengan penanggung jawab Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bireuen, Ir. Marwan, S.T., M.T.
Hingga laporan awal tersebut disampaikan, pendataan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan jumlah warga terdampak, kerusakan infrastruktur, dan kebutuhan penanganan di setiap wilayah yang dilanda banjir. (*)
